Even better, customers who have done both the injections and these homeopathic drops report feeling less hunger and more energy on the drops than on the injections. It truly is amazing. Please see our testimonials page for sacred heart diet Causes for Heart Palpitation: miracle garcinia cambogia side effects weight loss Further on the review, the length of days which you need to continue to use the weight loss is based on the quantity of weight you want to lose. Some weight loss merchants offer you a dosage recommendation chart. It is made to last throughout the day regardless of whether you are taking your bath, swimming, building up sweat or even engaging in a rigorous routine when you attach it to a small region of your skin which is dry and hairless. Till you decide to take it out, it will remain active all through giving your system the steady flow of ingredients it requires to attain your weight loss potential. where can i compare weight loss pills Ignore the scams, only a well balanced weight loss plan & regular exercise will help you shed that fat! simply weight loss centers Normal person fast lose weight Balada Laut Formosa | Photo District Jakarta (PD-JKT)
Home » Pictures

Balada Laut Formosa

Submitted by on September 18, 2011 – 1:37 amOne Comment

Erlybahsanthumb- by Erly Bahsan -

Ribuan pelaut Indonesia bekerja di pelabuhan-pelabuhan lokal Taiwan, sebuah negara pulau kecil di tepi Samudera Pasifik. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai awak di berbagai jenis kapal (atau yang biasa disebut ABK: Anak Buah Kapal) penangkap ikan Taiwan, dan sebagian kecil lainnya bekerja di bidang kargo laut. Gelombang besar kedatangan para pekerja laut Indonesia ini ke Taiwan dimulai sekitar awal tahun 2000-an, dan jumlahnya masih tetap bertambah sampai saat ini.

Pekerja Indonesia, bersama dengan pekerja asal Filipina, Thailand dan Vietnam, adalah jumlah terbanyak dari pekerja laut asing di Taiwan sehubungan dengan kurangnya tenaga kerja lokal.

Kebanyakan dari pelaut Indonesia ini tinggal di sekitar pelabuhan- pelabuhan besar di Taiwan, seperti di Danshui dan Keelung di sebelah utara Taiwan, Yilan di sebelah timur, Pingtung di selatan dan juga di Pulau Penghu. Sebagian dari mereka bekerja pada jalur pelayaran pendek untuk pencarian ikan di sekitar Taiwan, dan sebagian lainnya bergabung dalam jalur pelayaran panjang dengan tujuan perairan internasional yang biasanya melaut mencari ikan hingga 2 hingga 4 bulan sebelum kembali. Mereka membangun komunitas di masing-masing pelabuhan, menyewa tempat-tempat yang bias digunakan untuk berkumpul, dan membentuk forum pelaut Indonesia.

Bekerja di atas kapal bukanlah pekerjaan yang mudah. Seorang pelaut yang resmi mempunyai keahlian khusus untuk mengendalikan kapal yang didapat dari pendidikan Akademi Ilmu Pelayaran. Mereka biasanya mempunyai deskripsi kerja yang jelas di atas kapal, entah sebagai kapten kapal, asisten kapten, atau mekanik, dan mendapat bayaran yang cukup bagus. Sayangnya, kebanyakan pekerja laut Indonesia di Taiwan adalah para pekerja tanpa keahlian khusus yang bekerja sebagai ABK di atas kapal nelayan. Mereka datang ke Taiwan dengan harapan mendapatkan penghasilan yang lebih baik daripada sekedar bekerja di kampung- kampung asal mereka, dan mereka mau mengerjakan apa saja termasuk menjadi awak kapal. Sebagian di antara mereka belum pernah merasakan ikut dalam pelayaran bahkan ada beberapa yang belum bias berenang. Sehubungan dengan kondisi ini dan kurangnya pengetahuan secara umum, mereka kadang menemui banyak masalah dalam kerjanya seperti gaji yang kurang, kerja lebur, tempat tinggal yang kurang layak, dan lain sebagainya. Hal-hal ini adalah bagian kecil saja dari permasalahan besar para pekerja migran Indonesia di seluruh dunia.

Dengan pertolongan dari komunitas dan asosiasi yang mereka dirikan, para pelaut ini terus berjuang untuk meningkatkan kualitas hidup mereka dengan mulai belajar untuk sadar terhadap hak dan kewajiban. Kebanyakan dari mereka adalah muslim, sehingga mereka juga belajar untuk menjalankan cara hidup islami yang lebih baik, seperti menjalankan solat 5 waktu dan menghindari kebiasaan lama minum-minuman keras yang sebelumnya menjadi hal umum di kalangan pelaut. Sebagian juga berusaha mengumpulkan uang untuk menyewa tempat yang bisa dijadikan musholla untuk dapat melaksanakan solat dan pengajian dalam majlis taklim bulanan. Mereka mempunyai harapan besar akan masa depan yang lebih baik, entah sebagai pelaut professional atau menjalankan usaha mandiri di tempat asal mereka di Indonesia.
Foto-foto ini diambil di sekitar pelabuhan Donggang di daerah Pingtung, dan Suao di Yilan. Mencoba menggambarkan aktivitas sehari-hari mereka di sekitar pelabuhan, mulai dari bersantai di atas kapal, menurunkan hasil tangkapan dari kapal, mempersiapkan jarring alat tangkap untuk pelayaran berikutnya, berkumpul di majlis taklim dan berdoa bersama, serta gambaran umum kondisi pelabuhan-pelabuhan di mana mereka tinggal.

All text and images © 2011 Erly Bahsan

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.